Ah bisnis kok cuma bikin kos-kosan.. sepele amat. Yah, mungkin buat kebanyakan dari kita biasanya melihat bisnis kosan hanya untuk sambilan saja, memanfaatkan kamar yang daripada kosong. Jadi karena hanya beberapa kamar keutungannya tidak seberapa. Namun, menurut perhitungan saya, dengan perhitungan 30 kamar, saya bisa mendapatkan penghasilan 10 juta per bulan, dan dalam 5 tahun sudah balik modal.
Sejak tahun 2001 sampai dengan 2010, saya hidup sebagai anak kos. Jadi kadang kalau lagi di kos saya itu berpikir kos seperti apa yang bagus, maklumlah saya sudah beberapa kali merasakan pindah kos, jadi saya bisa membandingkan bagaimana rasanya tinggal di kos yang murah, yang banyak kamar dan agak jorok, kamar sempit tapi bersih dan pelayanan rewang yang memuaskan. Nah, dari situlah saya berpikir, suatu saat saya ingin punya usaha kos yang top markotop, ya mungkin jadi miniatur model bisnisnya hotel. Selain itu, menurut saya bisnis yang berkaitan dengan properti itu tetap menguntungkan karena selama digunakan, harga aset tidak turun. Menurut saya, ini adalah bisnis yang keuntungannya lumayan dan berisiko rendah.
Jadi, rumah kos seperti apa yang saya impikan?
1. Kos ini adalah untuk kalangan menengah ke atas dan pekerja atau kos eksklusif di Jogja. Jadi bukan untuk mahasiswa? Yup, jujur saja, biasanya kosan mahasiswa itu kurang bersih. Sedangkan kalau pekerja, kos adalah benar-benar tempat istirahat. Jadi ia di kos hanya waktu malam saja. Dengan demikian, biaya air dan listrik dapat ditekan karena penggunaan listrik dan air hanya pada malam hari.
2. Pelayanan yang memuaskan. Buat saya, pembantu juga bisa membuat penghuni kosan betah. Misalnya saja lantai tidak dipel dengan bersih, taman tidak dirawat dengan baik, atau mungkin ketika penghuni kos butuh bantuan, pembantu tidak melayani dengan baik, kondisi seperti ini akan membuat ia tidak nyaman. Jika pelayanan di kos memuaskan, menurut saya para penghuni kos tidak akan keberatan jika harus membayar lebih tinggi dibandingkan dengan kos lainnya.
3. Loundry dan Warung. Saat ini pekerja yang sibuk lebih senang memanfaatkan waktu liburnya untuk refreshing daripada nyuci baju. Betul tidak? Terus kalau warung, sebenernya bukan warung yang jualan macem-macem, cukuplah menjual indomie dan minuman ringan. Ya untuk melayani penghuni kos yang malas keluar hanya sekedar untuk membeli segelas teh hangat.
4. Kita adalah keluarga. Biasanya orang yang tinggal di kos adalah perantauan, jauh dari keluarga. Menurut saya, sebagai sesama penghuni kos harus saling kenal, punya rasa kekeluargaan, akrab, dan tidak individualis. Suasana yang hangat akan membuat semua penghuni kos nyaman. So, what will I do? Saya ingin membuat dining room, disitu ada TV, koran, majalah, dsb yang bisa menjadi tempat bercengkrama, nonton bareng, atau mungkin menerima tamu. Atau bisa juga mengadakan piknik bareng, makan-makan bareng, atau sekedar nonton bioskop bareng.
Ide itu akan muncul seiring berjalannya waktu, ilmu yang kita dapat, dan pengalaman yang terus berkembang. Jadi ide saya yang satu ini bisa saja suatu saat berubah.

